
Bandar Lampung – Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Raden Intan Lampung (UIN RIL) menggelar rapat evaluasi akhir pelaksanaan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) 2025 serta pemantapan teknis menjelang pelaksanaan kegiatan yang akan berlangsung pada 25–28 Agustus 2025 mendatang. Rapat ini digelar pada Kamis (21/8) di ruang rapat FEBI UIN RIL.
Kegiatan tersebut dipimpin oleh Wakil Dekan III FEBI, Dr. H. Wahyu Iryana, S.Hum., ChRMP., dan turut dihadiri oleh Pelaksana Harian (Plh.) Dekan FEBI, Dr. Madnasir, M.Si., Kepala Bagian FEBI, Zulaini Chaniago, S.E., M.E.I., Akt, para Ketua dan Sekretaris Program Studi di lingkungan FEBI, perwakilan Organisasi Mahasiswa (Ormawa), serta panitia inti PBAK.
Suasana rapat berlangsung dinamis dan konstruktif. Seluruh peserta menyampaikan evaluasi terhadap tahapan persiapan yang telah dilalui, termasuk catatan teknis, substansi materi, serta strategi pelaksanaan agar kegiatan PBAK tahun ini berjalan lebih baik dibanding tahun-tahun sebelumnya. Selain itu, dilakukan pula sinkronisasi agenda antarunit guna memastikan seluruh unsur fakultas terlibat aktif dalam menyambut mahasiswa baru.
Dalam pembukaannya, Dr. Wahyu Iryana menyampaikan bahwa evaluasi dan pemantapan ini bukan sekadar rutinitas administratif, melainkan langkah krusial untuk membangun sistem pembinaan awal mahasiswa yang lebih sistematis, terukur, dan berdampak. Ia menekankan bahwa PBAK harus menjadi ruang edukatif yang menanamkan karakter intelektual, etika, dan religiusitas pada mahasiswa baru.
“PBAK bukan hanya seremoni penyambutan mahasiswa baru. Ini adalah titik awal untuk membangun karakter mahasiswa FEBI yang intelek, berakhlak, dan adaptif terhadap tantangan zaman. Maka, harus kita garap serius dengan perencanaan matang dan pelaksanaan yang efektif,” ujar Dr. H. Wahyu.
Ia juga menambahkan bahwa peran Ormawa sangat penting dalam pelaksanaan PBAK. Organisasi mahasiswa menjadi representasi langsung dari dinamika kehidupan kampus, dan oleh karenanya perlu mengambil peran lebih strategis dalam pengenalan budaya akademik kepada para mahasiswa baru.

Sementara itu, Plh. Dekan FEBI, Dr. Madnasir, M.Si., menyampaikan bahwa PBAK adalah bagian dari proses integrasi mahasiswa ke dalam dunia akademik kampus. Menurutnya, kegiatan ini harus diarahkan untuk membangun kebanggaan terhadap almamater, memahami nilai-nilai dasar keilmuan Islam, serta menumbuhkan semangat kolaborasi di kalangan mahasiswa.
“Mahasiswa baru harus merasa diterima, dibimbing, dan diberi arah yang jelas tentang bagaimana menjadi bagian dari FEBI. Di sinilah PBAK memainkan peran penting: mengubah keterasingan menjadi kedekatan, dan keraguan menjadi keyakinan bahwa mereka berada di tempat yang tepat untuk tumbuh,” tutur Dr. Madnasir.
Dalam sesi diskusi, masing-masing Ketua, Ketua Sekretaris Gugus Mutu Fakultas dan Sekretaris Program Studi menyampaikan masukan mengenai integrasi konten PBAK dengan visi keilmuan prodi. Mereka menekankan pentingnya kesesuaian materi PBAK dengan karakteristik dan kebutuhan program studi masing-masing, serta perlunya mengedepankan pendekatan pembinaan yang humanis dan inspiratif.
Salah satu poin pembahasan penting adalah mengenai strategi pelaksanaan kegiatan PBAK yang akan berlangsung selama empat hari, mulai tanggal 25 hingga 28 Agustus 2025. Ketua Panitia PBAK FEBI 2025 melaporkan bahwa hingga saat ini, seluruh tahapan persiapan telah memasuki fase akhir, termasuk penyusunan jadwal, pembagian tugas panitia, serta simulasi teknis lapangan.
“Insyaallah seluruh perangkat telah siap. Kami telah berkoordinasi dengan pihak keamanan kampus, tenaga medis, serta para pemateri internal dan eksternal. Kami juga tengah menyempurnakan modul PBAK agar lebih kontekstual dan menarik bagi mahasiswa baru,” jelasnya dalam sesi laporan.
Adapun tema besar PBAK FEBI 2025 mengusung semangat “Merajut Cinta, Merawat Semesta: Membangun Generasi Emas Berjiwa Ekoteologis yang Peduli Lingkungan dan Berakhlak Mulia.” Tema ini dipilih sebagai respons atas tantangan global yang menuntut mahasiswa tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga peka terhadap isu-isu lingkungan, sosial, dan spiritual.

Kabag FEBI, Zulaini Chaniago, S.E., M.E.I., Akt, menyoroti pentingnya aspek administratif dan koordinatif dalam mendukung suksesnya pelaksanaan PBAK. Ia menegaskan bahwa semua lini harus berjalan dalam satu komando agar kegiatan ini tidak hanya berjalan tertib, tetapi juga efisien dan berkesan.
“Kita tidak boleh lengah pada detail teknis. Kelengkapan dokumen, kesiapan logistik, dan pengawasan pelaksanaan harus menjadi perhatian bersama. Panitia dan Ormawa harus menjalin komunikasi yang intensif untuk mencegah miskomunikasi atau kendala di lapangan,” tegas Zulaini.
Pihak Ormawa yang hadir dalam forum ini juga memberikan pandangan terkait pelaksanaan lapangan. Mereka mengusulkan agar agenda PBAK tahun ini lebih inklusif, memberikan ruang interaksi lebih luas bagi mahasiswa baru, serta memperhatikan aspek psikologis peserta, terutama mereka yang datang dari luar daerah atau dari latar belakang pendidikan yang beragam.
Beberapa catatan penting lainnya yang muncul dalam rapat antara lain mengenai teknis pembagian kelompok peserta, mekanisme absensi digital, skenario darurat kesehatan, serta pengaturan konsumsi dan transportasi panitia. Semuanya dibahas secara rinci guna memastikan bahwa setiap komponen kegiatan berjalan lancar tanpa hambatan.
Selain aspek teknis, forum juga membahas pentingnya membangun atmosfer yang menyenangkan selama PBAK. Mahasiswa baru harus merasakan bahwa FEBI adalah rumah kedua mereka tempat yang ramah, terbuka, dan mendukung proses tumbuh kembang pribadi dan akademik.

Dalam penutupan rapat, Dr. Wahyu kembali mengingatkan agar seluruh panitia dan pihak terkait menjaga komitmen dan integritas dalam menjalankan tanggung jawab masing-masing. Ia juga menyampaikan bahwa PBAK harus menjadi cerminan wajah FEBI yang inklusif, profesional, dan menjunjung tinggi nilai-nilai keislaman.
“Kita ingin mahasiswa baru masuk ke dalam ekosistem FEBI dengan semangat belajar yang tinggi, hati yang bahagia, dan pikiran yang terbuka. Maka, berikan mereka pengalaman pertama yang membekas dan bermakna,” tutup Dr. Wahyu.
Rapat evaluasi dan pemantapan ini menjadi momentum penting bagi FEBI UIN RIL untuk menegaskan kembali komitmennya dalam mendampingi mahasiswa baru memasuki dunia kampus. Dengan sinergi kuat antara unsur pimpinan, dosen, tenaga kependidikan, Ormawa, dan panitia, PBAK FEBI 2025 diharapkan menjadi lebih dari sekadar kegiatan orientasi, melainkan sebuah gerbang pembinaan awal menuju insan akademik yang unggul, berakhlak, dan berdaya saing global.
Melalui tema “Merajut Cinta, Merawat Semesta: Membangun Generasi Emas Berjiwa Ekoteologis yang Peduli Lingkungan dan Berakhlak Mulia,” FEBI menegaskan bahwa pendidikan tinggi bukan hanya untuk mencetak sarjana, tetapi membentuk manusia seutuhnya yang sadar akan tanggung jawab moral dan spiritual terhadap alam, sesama, dan Sang Pencipta. (FA/WA)