
Bandar Lampung – 28 Agustus 2025 Hari kedua kegiatan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) 2025 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Raden Intan Lampung menjadi momentum penting bagi mahasiswa baru untuk menyelami nilai-nilai Islam dalam praktik yang nyata. Dalam suasana penuh semangat dan kreatifitas, mahasiswa dari empat program studi di FEBI — Ekonomi Syariah (ES), Perbankan Syariah (PS), Manajemen Bisnis Syariah (MBS), dan Akuntansi Syariah (AKS) menjalankan praktik ekoteologi melalui pembuatan film pendek bertema lingkungan.
Kegiatan ini diselenggarakan di Ballroom FEBI dan menjadi salah satu sesi unggulan dalam rangkaian PBAK. Film pendek yang diproduksi bukan sekadar karya seni biasa, melainkan sebagai media refleksi sekaligus ekspresi mahasiswa baru terhadap tanggung jawab ekologis manusia sebagai khalifah di bumi. Dengan mengangkat isu-isu lingkungan seperti pencemaran, pengelolaan sampah, konservasi air, dan gaya hidup ramah lingkungan, mahasiswa diajak untuk mengaitkan persoalan ekologis tersebut dengan nilai-nilai keislaman yang mereka pelajari di bangku kuliah.
Wakil Dekan III FEBI, Dr. H. Wahyu Iryana, S.Hum., ChRMP, dalam sambutannya menyatakan bahwa pembuatan film ini bukan hanya ajang kreativitas, tetapi juga menjadi bagian dari proses pembelajaran yang kontekstual. Menurutnya, mahasiswa tidak cukup hanya dibekali teori di ruang kelas, tetapi perlu mengalami dan merasakan langsung bagaimana nilai-nilai Islam bisa diterapkan dalam menghadapi isu-isu kontemporer, salah satunya adalah krisis lingkungan.
“Kegiatan ini merupakan bentuk nyata dari integrasi antara keilmuan dan nilai-nilai Islam. Ekoteologi bukanlah konsep abstrak, melainkan prinsip hidup yang harus kita bawa dalam keseharian, termasuk dalam menjaga lingkungan. Mahasiswa harus mulai dari hal kecil, dari sekitar kampus, dari gaya hidup pribadi, hingga bagaimana menyuarakan kesadaran itu lewat media seperti film,” ujarnya di hadapan ratusan mahasiswa baru.
Lebih dari sekadar praktik akademik, kegiatan pembuatan film ini menjadi ajang kolaboratif lintas prodi yang mempererat solidaritas antar mahasiswa baru. Mereka dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil, masing-masing berperan sebagai penulis naskah, sutradara, pemeran, kameramen, hingga editor. Dalam waktu yang terbatas, mereka harus mampu menghasilkan karya yang komunikatif, menyentuh, dan selaras dengan tema besar yang telah ditentukan panitia: “Ekoteologi Sebagai Nafas Green Campus”.
Proses produksi dilakukan secara intensif sejak pagi hari. Terlihat berbagai kelompok mahasiswa sibuk menyiapkan peralatan sederhana sebagian membawa kamera ponsel, tripod rakitan, bahkan beberapa menggunakan mikrofon rakitan sendiri. Sementara itu, mahasiswa lain tampak sibuk membaca skrip dan berlatih akting di pojok-pojok ballroom, taman sekitar gedung FEBI, hingga ruang terbuka lainnya yang dijadikan lokasi syuting. Suasana ini mencerminkan semangat mahasiswa baru yang antusias untuk berkontribusi dalam menciptakan perubahan melalui media kreatif.
Panitia PBAK yang mayoritas terdiri dari mahasiswa senior dan dosen pembimbing, memberikan pendampingan selama proses produksi berlangsung. Mereka membantu menyelaraskan pesan film dengan prinsip-prinsip ekoteologi, termasuk menyisipkan ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis Nabi yang berkaitan dengan pelestarian lingkungan. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi mahasiswa baru, sebab mereka dituntut untuk tidak hanya berpikir kreatif, tetapi juga mampu menerjemahkan ajaran Islam dalam konteks kehidupan masa kini.
Pada sore hari, seluruh kelompok memutar film pendek mereka di ballroom, disaksikan oleh seluruh peserta PBAK, dosen, dan pimpinan fakultas. Pemutaran film berlangsung dalam suasana khidmat dan apresiatif. Setiap film menyampaikan pesan yang kuat tentang pentingnya kesadaran ekologis dari sudut pandang yang beragam ada yang menggunakan pendekatan dokumenter, drama fiksi, bahkan ada yang membungkus pesan ekologis dengan humor dan puisi.
Salah satu film yang mendapat perhatian berjudul “Satu Daun, Seribu Makna”, menceritakan tentang seorang mahasiswa yang awalnya acuh terhadap sampah, namun mengalami perubahan sikap setelah membaca kisah Nabi Muhammad SAW yang sangat mencintai kebersihan dan keindahan. Film ini berhasil menyentuh penonton dan menggugah kesadaran untuk memulai perubahan dari diri sendiri. Ada juga film “Hijrah Hijau”, yang menggambarkan mahasiswa baru yang melakukan hijrah perilaku dari konsumtif dan boros, menjadi hemat energi, peduli air, dan bijak dalam konsumsi.
Dr. H. Wahyu Iryana yang biasa di panggil Pah Haji Wayan memberikan apresiasi tinggi terhadap kreativitas mahasiswa baru. Dalam wawancara singkat usai pemutaran film, beliau menyampaikan bahwa praktik semacam ini harus terus dilakukan dan bahkan bisa dijadikan model pembelajaran berbasis proyek untuk mata kuliah tertentu. Ia juga berharap film-film yang dihasilkan bisa diputar kembali dalam forum-forum kampus lainnya sebagai bagian dari kampanye Green Campus yang telah menjadi komitmen UIN Raden Intan Lampung. Hal senada juga diamini oleh Ketua Gugus Mutu Fakultas Anas Malik
“Kita hidup di era visual. Anak-anak muda hari ini lebih cepat tersentuh dan tergerak melalui video, film, dan media sosial. Maka sangat tepat bila kita menjadikan film sebagai medium dakwah lingkungan. Apalagi pesan yang disampaikan tidak hanya ilmiah, tapi juga memiliki dimensi spiritual yang kuat,” jelasnya.
Selain menumbuhkan kesadaran ekologis, kegiatan ini juga memberi ruang pengembangan soft skills bagi mahasiswa baru, seperti kepemimpinan, komunikasi, kerja tim, manajemen waktu, dan kemampuan berpikir kritis. Hal ini sejalan dengan profil lulusan FEBI yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepekaan sosial dan kemampuan berkontribusi aktif dalam masyarakat.
Ketua Dema Febi, menyampaikan bahwa ide pembuatan film ekoteologi ini sudah dirancang oleh panitia sebelum pelaksanaan. Ia menyebutkan bahwa mahasiswa baru perlu diberikan pengalaman awal yang menyenangkan, bermakna, dan berdampak. Maka dipilihlah kegiatan yang menggabungkan unsur edukasi, seni, dan spiritualitas.
“Film ekoteologi ini bukan hanya karya tugas, tetapi bentuk ibadah sosial. Kita ingin mahasiswa baru paham bahwa menjaga lingkungan bukan tugas pemerintah semata, tetapi bagian dari iman. Dan kita bisa menyuarakan itu melalui karya yang menyentuh,” ujarnya.
Sementara itu, beberapa mahasiswa baru yang ditemui mengaku sangat menikmati pengalaman ini. Mereka menyebut kegiatan ini membuat mereka cepat akrab dengan teman lintas prodi, memahami budaya kampus, sekaligus merasa dihargai karena diberi ruang untuk berkreasi. Salah satu mahasiswa baru Prodi Akuntansi Syariah, Nurul Fatimah, mengatakan bahwa kegiatan ini membuatnya merasa bahwa kampus adalah tempat yang menyenangkan untuk belajar dan berkembang.
“Saya dulu takut kalau masuk kuliah hanya belajar di kelas dan ujian. Tapi ternyata kampus ini punya cara unik mengenalkan nilai-nilainya. Kita belajar agama, tapi juga diajak praktik. Saya jadi lebih semangat,” katanya sambil tersenyum.
Kegiatan hari kedua PBAK FEBI UIN Raden Intan Lampung ini ditutup dengan refleksi bersama yang dipandu oleh dosen pembimbing dan panitia. Dalam sesi tersebut, mahasiswa diminta menuliskan satu komitmen pribadi terkait gaya hidup ramah lingkungan yang akan mereka jalankan selama menjadi mahasiswa FEBI. Kertas komitmen tersebut kemudian dikumpulkan dan akan ditempelkan secara simbolis di “Pohon Harapan Ekoteologi” yang dibuat dari bahan daur ulang.
Dengan terselenggaranya praktik ekoteologi ini, FEBI UIN Raden Intan Lampung sekali lagi menunjukkan konsistensinya dalam mendukung program Green Campus yang tidak hanya bersifat fisik dan administratif, tetapi juga menyentuh aspek pendidikan dan spiritualitas mahasiswa. Inisiatif ini juga sejalan dengan visi UIN Raden Intan sebagai kampus berbasis rahmatan lil ‘alamin yang memadukan ilmu pengetahuan, nilai-nilai Islam, dan kepedulian terhadap lingkungan.
Kegiatan hari kedua PBAK 2025 ini tidak hanya menjadi kenangan bagi mahasiswa baru, tetapi juga menjadi titik tolak perubahan cara pandang mereka terhadap lingkungan dan peran diri mereka sebagai agen perubahan. Film-film pendek yang mereka hasilkan akan menjadi bukti bahwa mahasiswa FEBI mampu menjadi juru bicara bumi yang kritis, kreatif, dan beriman.
(WA/FA).