(Lampung Post, 01 April 2026)
Berbicara tentang halal bihalal rasanya tidak asing lagi bagi kita, dimana halal bihalal sering diselenggarakan di bebagai tempat, baik di kampus, masjid, sekolah, tempat arisan, kantor dan lain sebagainya.
Meskipun istilah halal bihalal tidak pernah didapatkan dalam Al-Qur’an dan Hadis, tetapi yang paling penting bagi kita adalah makna/substansi dan pesan mulia yang terkandung di dalamnya.
Halal bihalal memang merupakan tradisi/budaya di Indonesia yang dicetuskan oleh K.H. Abdul Wahab Chasbullah, yakni pendiri Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambak Beras Jombang, namun sejatinya tujuan, makna/substansi, dan pesan mulia yang terkandung di dalamnya sangatlah luar biasa.
Lantas mengapa halal bihalal perlu diselenggarakan? Apa manfaat dan hikmahnya bagi kehidupan manusia? Mengenai hal ini, halal bihalal diselenggarakan atas dasar keinginan bersama untuk berkumpul dan bersilaturrahmi dengan yang lain, yakni dalam rangka untuk melepas rasa kangen dan rindu, sekaligus memadu kasih di antara kita setelah lama tidak bertemu dan tidak saling berkunjung.

Mengapa kita perlu berkumpul dan bersilaturrahmi? Karena kita adalah bersaudara. Ingat firman Allah SWT Surat al-Hujurat ayat 10 yang artinya “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu adalah bersaudara, maka damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertawakalah kepada Allah agar kamu mendapatkan rahmat”.
Berdasarkan ayat ini jelas bahwa kita semua adalah bersaudara. Karena kita adalah bersaudara, maka tentunya kita harus saling membantu, meringankan beban, peduli dan sayang menyayangi satu sama yang lain. Bukannya saling menyalahkan, menyudutkan, menjatuhkan, melemahkan, dan saling meremehkan, apalagi saling membenci, iri dengki dan saling memutus hubungan silaturrahmi. Ingat hadis Rasulullah SAW yang artinya “Janganlah di antara kalian saling hasud/iri dengki, janganlah di antara kalian saling memutus hubungan silaturrahmi, janganlah di antara kalian saling membenci, dan janganlah di antara kalian saling membelakangi, tetapi jadilah kalian semua hamba-hamba Allah yang bersaudara”. Berdasarkan hadis ini jelas bahwa apapun perbedaannya, baik karena perbedaan kedudukan, jabatan, penghasilan, pendapat, paham/aliran, dan lain sebagainya jangan sampai membuat kita saling iri dengki, saling memutus hubungan silaturrahmi, saling membenci dan saling membelakangi.
Tetapi justru dengan perbedaanperbedaan itu kita jadikan sebagai sarana kekuatan untuk meraih cita-cita, mewujudkan impian dan memantapkan hubungan persaudaraan. Ingat, orang yang suka hasud/iri dengki itu sesungguhnya akan dapat merusak hubungan persaudaraan, bahkan dapat menghancurkan amal kebaikan, orang yang suka memutus hubungan silaturrahmi sesungguhnya akan dapat menghambat rezekinya sendiri, dan orang yang suka membenci orang lain hakekatnya dapat merusak harga dirinya, sebab orang yang suka membenci orang lain sama saja membenci dirinya sendiri, lihat al-Baqarah ayat 195 bahwa janganlah kalian menjatuhkan dirimu sendiri dalam kebinasaan.
Dalam hadis yang lain Rasulullah SAW juga bersabda yang artinya “Sesungguhnya mukmin yang satu dengan mukmin yang lain itu bagaikan sebuah bangunan, dimana antara unsur yang satu dengan unsur yang lain saling menguatkan”. Ini artinya bahwa sebagai saudara tentu di antara kita harus saling menguatkan, bukannya saling melemahkan. Tentunya dengan saling membantu, memberi dukungan dan kekuatan, serta saling meringankan beban, sehingga persaudaraan di antara kita akan tetap terjaga dan semakin mantap.
Selain itu perlunya menyelenggarakan halal bihalal karena kita ingin maaf-maafan. Mengapa kita harus maaf-maafan? Karena kita punya salah dan dosa. Hal ini sebagaimana hadis Rasulullah SAW yang artinya “Setiap anak Adam (manusia) pasti bersalah, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang mau meminta maaf”. Ini artinya bahwa apabila kita punya salah atau dosa, maka segera meminta maaf, dan yang memberi maaf pun harus benar-benar ikhlas untuk memaafkannya bukan karena terpaksa.
Hal ini juga sebagaimana dijelaskan dalam Surat al-Baqarah Ayat 109 bahwa apabila ada orang yang berbuat salah atau dosa, maka maafkanlah dan berlapang dadalah. Ini artinya apabila kita melakukan suatu kesalahan, baik disengaja maupun tidak, hendaklah kita saling memaafkan, sebab dengan saling memaafkan hidup kita akan lebih tenang, aman, nyaman dan tentram.
Apalagi kalau setiap orang selalu mengaku bersalah, kemudian tidak malu-malu untuk meminta maaf, alangkah indahnya kehidupan ini. Sehingga tidak ada lagi orang yang selalu mengaku benar, tidak ada lagi kesombongan dan tidak ada lagi keangkuhan. Berkaitan dengan hal ini Allah SWT telah menjelaskan dalam surat al-Imron ayat 133-134 yang artinya “Dan bersegeralah kalian menuju ampunan dari tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang berinfak, baik dalam keadaan lapang maupun sempit, orang orang yang menahan amarah/emosinya, dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain”.
Berdasarkan ayat ini jelas bahwa Allah memerintahkan umat Islam untuk bersegera mengejar ampunan Allah. Ini artinya apabila kita melakukan kesalahan/dosa kepada Allah, maka segera mungkin kita bertaubat dan memohon ampun kepada-Nya.
Demikian juga sebaliknya apabila kita melakukan kesalahan terhadap sesama manusia, maka segera mungkin kita meminta maaf, jangan pernah menunda-nunda untuk meminta maaf. Sebab sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang mau meminta maaf. Akhirnya semoga kita termasuk hamba-hamba Allah yang senantiasa menjalin hubungan persaudaraan, menjaga hubungan silaturrahmi dan saling memaafkan antar sesama, sehingga persaudaraan di antara kita akan selalu
terjaga. Wallahu a’lam Bishawab.
Penulis : Prof.Dr. H A Kumedi Ja’far, S.Ag. M.H. (Lampost 01042026)