
Gelar Profesor merupakan puncak pencapaian akademik tertinggi yang diraih melalui proses panjang, dedikasi tinggi, integritas ilmiah dan kontribusi nyata dalam bidang keilmuan tertentu. Seorang Profesor bukan hanya sekadar gelar, tetapi simbol dari perjalanan panjang yang penuh perjuangan dan pengorbanan, baik dari segi waktu, tenaga, pikiran hingga kesabaran dalam menghadapi birokrasi dan tuntutan administrasi yang tidak ringan. Profesor juga tidak hanya mencerminkan keunggulan intelektual, tetapi juga komitmen terhadap pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan dan pengabdian kepada masyarakat.
Dalam konteks bangsa, kehadiran Profesor tentunya sangat penting, di mana mereka merupakan pemikir strategis, penjaga nalar publik dan pengawal moral intelektual dalam masyarakat. Sementara dalam Islam, amal yang tidak akan terputus setelah kematian salah satunya adalah ilmu yang bermanfaat. Dalam hal ini, Seorang Profesor, melalui tulisan/pemikiran/karya-karyanya tentu memiliki potensi besar untuk menjadi bagian dari amal jariyah. Hal ini sebagaimana hadis Rasulullah SAW yang menegaskan bahwa “Apabila manusia meninggal dunia, maka terputuslah seluruh amalnya kecuali tiga perkara, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak sholeh yang mendoakannya”. Berdasarkan hadis ini jelas bahwa setiap ilmu yang diajarkan oleh seorang Profesor, setiap pemikiran yang mencerahkan dan setiap mahasiswa yang berhasil karena bimbingannya tentu merupakan investasi pahala yang akan terus mengalir. Hal ini juga sesuai dengan janji Allah dalam Surat Al-Mujadalah Ayat 11, bahwa Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dalam hal ini tentu seorang Profesor merupakan salah satu bagian dari orang-orang yang diberi ilmu tinggi, sehingga wajar kalau Allah mengangkat derajat mereka, yakni dengan memperbaiki ekonomi dan kehomatannya.
Untuk meraih gelar Profesor tidaklah mudah, tentuanya melalui perjuangan yang sangat panjang, yakni dimulai dari Pendidikan Dasar hingga Pendidikan Doktoral (S3), dilanjutkan dengan pengabdian sebagai dosen atau peneliti, menghasilkan karya-karya ilmiah yang diakui secara nasional maupun internasional, serta melaksanakan pendidikan dan pengajaran, yang semuanya sebagai bentuk menjalankan tugas tridharma perguruan tinggi secara konsisten. Belum lagi harus menghadapi ketatnya regulasi, keterbatasan fasilitas riset, hingga dinamika internal institusi.
Setelah gelar Profesor disandang, tentunya tanggung jawab moral dan intelektual pun semakin besar, di mana Profesor diharapkan menjadi motor penggerak kemajuan ilmu pengetahuan, pemikir strategis bangsa, dan pendidik yang mampu mencetak generasi unggul. Profesor tidak cukup hanya berkontribusi melalui tulisan dan riset, tetapi juga bisa melalui keteladanan dalam berpikir, bersikap dan bertindak.
Demikian juga di tengah tantangan zaman, mulai dari krisis moral, degradasi lingkungan, hingga disinformasi, kehadiran Profesor sebagai public intellectual tentunya menjadi sangat penting, di mana mereka diharapkan tidak hanya hadir di ruang kelas dan jurnal ilmiah, tetapi juga hadir di ruang-ruang publilk untuk memberikan pencerahan, membela kebenaran, dan mendorong arah kebijakan yang berpihak kepada kemaslahatan. Ingat, seorang Profesor itu setiap ucapannya adalah ilmu, dan setiap tindakannya adalah keteladanan. Maka seorang Profesor harus selalu berhati-hati dalam berucap, bersikap, berperilaku dan bertindak. Sebab setiap ucapan, sikap, tindakan dan perbuatannya akan menjadi dasar atau rujukan bagi masyarakat. Sehingga dalam setiap ucapan, sikap, perilaku dan tindakan atau perbuatannya harus selalu mendatangkan kemaslahatan, bukan justru menimbulkan masalah atau kemadharatan.
Oleh karena itu perjuangan menjadi Profesor tentunya merupakan wujud nyata cinta terhadap ilmu, lembaga, agama, maupun masyarakat, bangsa dan negara. Sedangkan kontribusinya merupakan warisan intelektual yang bisa menghidupkan peradaban yang baik demi terwujudnya kebahagiaan dunia dan akhirat. Maka sebagai Profesor tentunya tidak boleh berhenti pada pencapaian pribadi, tetapi ia harus selalu menjadi pelopor dalam menciptakan inovasi, pembimbing generasi muda, menjadi suara moral dan intelektual dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, serta untuk terus berkarya, memberi manfaat dan menjadi inspirasi bagi sesama. Melalui karya dan keteladanan tentunya seorang Profesor sangat berperan penting dalam membangun peradaban yang berlandaskan ilmu dan nilai.
Untuk itu cara menghargai Profesor bukan hanya karena gelarnya, melainkan karena nilai-nilai luhur yang mereka perjuangkan dan korbankan. Jadilah Profesor yang tidak hanya dihormati karena gelarnya, tetapi juga dikenang karena keteladanannya. Ingat, Ilmu tanpa amal adalah kesia-siaan, Gelar tanpa akhlak adalah kehampaan, Tetapi ilmu yang diamalkan adalah gelar yang disyukuri, Itulah jalan menuju kemuliaan dunia dan akhirat.
Semoga para Profesor senantiasa diberikan keberkahan dalam ilmunya, kekuatan dalam pengabdiannya, keikhlasan dalam setiap langkahnya, dan ilmuanya pun senantiasa menjadi cahaya di dunia dan menjadi amal jariyah hingga akhirat. Wallahua’lam Bishawab.
Kontributor :